Promo Usaha Mikro Kecil

Sendang Duwur

Nama sebuah wilayah di tepi laut Jawa ini mengundang unsur tidak sengaja. Tidak sengaja tapi diundang? Biarlah itu hanya sekedar pengayaan istilah.

Pertama kali mencapai tempat ini sebenarnya penuh dengan kesan yang luar biasa. Sorot lampu sepeda motor kami tidak mampu mencapai jarak 10 meter ke depan tetapi begitu terang untuk bagian atas. Sehingga yang terjadi kemudian adalah perasaan seolah-olah, seolah kami berpayung rimbun daun pohon yang menutupi jalan. Ruas jalan tidak begitu lebar bahkan kami tidak tahu jika di sisi kiri ada sebuah turunan curam yang mungkin bekas galian batu. Itu pun baru kami ketahui dalam perjalanan pulang di siang hari.

Setiba di kawasan masjid Sunan Sendang Duwur ada dua buah kolam jernih berdinding batu, begitu alami karena hanya ditumpuk tanpa campuran semen atau perekat lainnya. Ini rekaman suasana era sebelum 1995, kalau Anda berkunjung ke sana di masa pasca 2015, boleh jadi suasana kolam telah berubah. Biasanya sedikit keruh dan kotor. Tapi itu hanya perkiraan saja, semoga tidak seperti dugaan. Keadaan masjid? masih ada kekunoan yang terjaga dan terawat. Satu hal yang mendekati kepastian saat berada di dalamnya adalah Anda diserang kantuk karena semilir dan sejuk yang begitu mewah.

Sunan Sendang Duwur adalah gelar Raden Nur Rahmad, seorang mubaligh yang hidup dalam kurun yang sama dengan Sunan Drajat. Banyak kisah mistis yang dikaitkan pada beliau, tetapi tulisan ini tidak membahas aroma ajaib. Bila Anda bertanya tentang alasan, maka dalilnya adalah kita hormati tradisi lisan dan kepercayaan penduduk setempat serta orang-orang yang meyakininya.

Dan bukan kebetulan apabila kemudian saya mengenal seseorang yang tinggal di kawasan ini. Begitu dekat dengan masjidnya. Beliau adalah empunya blog. Zumro itu nama pendek yang digunakan sebagai judul blog. Orang sekarang menyebut sebagai chemistry. Itu adalah firasat saya ketika beliau dengan gagah berani memasuki gelanggang prosa liris. Saat membaca nama, tulisan WA, satu hal segera saya peroleh : ini sesuatu. Lantas ketika beliau menyebut nama desanya, bingo! Sesuatu itu adalah jawaban.

Salam hangat dari saya yang masih suka menyebut diri sebagai Blogger Paciran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *